Profile+

PROF. DR. DR. ABDUL RAZAK THAHA, MSC, SPGK

PERDAWERI

WADAH UNTUK SEMUA, BUKAN MILIK ORGANISASI TERTENTU

KEHADIRAN PROF. DR. DR. ABDUL RAZAK THAHA, MSC, SPGK SEBAGAI KETUA PENGURUS PUSAT
PERDAWERI (PERHIMPUNAN DOKTER SEMINAT ANTI PENUAAN, WELNES, ESTETIKA, DAN REGENERATIF INDONESIA) PERIODE 2014-2017 DAN PERIODE 2017-2020 MENJADI PENENGAH DAN PEMERSATU ANTARA PERDAWERI DENGAN DOKTER SPESIALIS YANG TERTARIK DI BIDANG WELNES, ESTETIKA, ANTI AGING, DAN REGENERATIF.

Kesibukan pria kelahiran Tual, 23 Maret 1949 ini sangat padat. Mulai dari menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar PB IDI, Ketua Yayasan IGI-Institut Gizi Indonesia, Ketua Pengurus Pusat PERDAWERI (Perhimpunan Dokter Seminat Anti Penuaan, Welnes, Estetika, dan Regeneratif Indonesia), hingga menjadi pembicara di berbagai seminar di Indonesia, menjadi dosen dan Guru Besar di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar. Pria yang biasa disapa Prof. Atja ini menempuh pendidikan S1 di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Setelah itu melanjutkan pendidikan S2 di SEAMEO Tropmed PH, Universitas Indonesia. Doktor di bidang Kesehatan Masyarakat yang diselesaikan pada tahun 1995 di Universitas Indonesia dengan predikat cum laude. Berbagai penelitian yang dilakukan Prof. Atja membuat ia mendapat penghargaan M. KODYAT dari Pengurus Besar IDI (Ikatan Dokter Indonesia), atas prestasi ilmiah yang menonjol dalam bidang Kedokteran tahun 2015 lalu. Kepada Aesthetic+, ayah 4 anak ini menceritakan perjalanan berdirinya PERDAWERI hingga keinginannya untuk menyatukan para dokter yang seminat di bidang anti aging dan estetika.

AWAL BERDIRI PERDAWERI
Dua kali menjabat sebagai Ketua Pengurus Pusat PERDAWERI (Perhimpunan Dokter Seminat Anti Penuaan, Welnes, Estetika, dan Regeneratif Indonesia) periode 2014-2017 dan periode 2017-2019 bukan tanpa sebab. Sikap tegas dan tidak memihak membuatnya dipilih menjadi Ketua PERDAWERI, perhimpunan dokter seminat yang baru beberapa tahun berdiri dan sempat menjadi perbincangan hangat di kalangan dokter umum dan spesialis.

Bisa diceritakan asal mula kehadiran PERDAWERI di Indonesia?

Sebelum 2012, pada struktur IDI dikenal 4 unit organisasi yakni PDSP (Perhimpnan Dokter Spesialis), PDPP (Perhimpunan Dokter Pelayanan Primer), PDSM (Perhimpunan Doker Seminat), dan Kajian. Kajian harus melebur menjadi PDSP atau PDSM. Tiga Kajian yang bergerak dalam bidang kedokteran yang sama Pada Muktamar IDI 2012 di Makassar yaitu PERPASTI, PERDESTI, DAN PERKAPI tidak diterima lagi di bawah struktur IDI. Maka pada Muktamar 2012 Makassar, ditetapkan pembentukan PDSM baru yang mewadahi Anti-Aging, Wellness, Estetka dan Regeneratif yakni PERDAWERI. Anggota dari ketiga Kajian (PERKAPI, PERPASTI dan PERDESTI) dipersilahkan untuk bergabung dengan PERDAWERI.

PERDAWERI dibentuk pada 2012, mengapa muktamar PERDAWERI baru dilakukan pada 2014?
PERDAWERI disyahkan di dalam Muktamar IDI 2012. Sesudah Muktamar, MPPK mengambl inisiaitif memepersiapkan prasyarat organisi sebelum pada bulan Deseber 2013, PB IDI mengeluarkan SK PERDAWERI sebagai sebuah PDSM baru. Berdasarkan SK PB IDI – 50 orang anggota pendiri PERDAWERI sebagai syarat minimal untuk pengesahan PDSM baru, melaksanakan Musyawarah Nasional I Perdaweri. Peserta MUNAS yang dominan berasal dari 3 ex kajian, lebih memilih mencari seorang Ketua yang dianggap netral terhadap 3 unsur Kajian yang mendominasi keanggotaan PERDAWERI pada saat Konas tersebut. Mungkin karena saya sejak awal ikut membidani lahirnya PERDAWERI, sehingga temanteman akhirnya menunjuk saya menjadi Ketua. Padahal saya waktu itu masih menjabat sebagai Wakil Ketua MPPK (Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian) yang membawahi semua PDSP, PDPP dan PDSM. Akhirnya saya menerima amanah ini, dengan harapan satu periode saja saya terlibat jadi ketua. Tapi waktu Kongres Nasional Kedua, justru peserta kongres sepakat pemilihan ketua sudah tidak usah dilakukan. Ketua yang lama saja dilanjutkan jadi Ketua baru.

Menyatukan berbagai kepentingan berbeda-beda bukan hal mudah. Bagaimana Anda menyikapi hal ini?
Salah satu dari Misi dari PERDAWERI adalah bertugas mengembangkan keilmuan di bidang anti-aging. Ketika kita bicara anti-aging, ini jadi sangat krusial. Apalagi sekarang ini luar biasa pengembangannya mengingat masyarakat Indonesia juga sudah mulai mengenal anti-aging. Sejak 2010, terjadi perubahan lifestyle yang signifkan. Dulu good based lifestyle, lalu bergeser ke leisure occation lifestyle, dan kini bergeser menuju habitual leisure lifestyle. Anti-aging termasuk di dalamnya estetika menjadi pilihan dari generasi milenial dengan habitual leisure lifestyle ini. Banyak dokter umum, menjalankan praktek dokter umum atau klinik pratama dengan pelayanan anti aging dan estetika. Karena belum jelasnya aturan main baik regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah (dalam hal ini KKI dan Kemenkes), maupun organisasi (dalam hal ini IDI) maka tidak terhindari gesekan-gesekan yang terjadi di lapangan. Akibatnya, di satu pihak ada PDSP yang menganggap ada bagian lahannya yang digarap oleh dokter umum, di lain pihak para dokter umum menganggap pelayanan yang mereka lakoni selama ini, didukung oleh kompetensi yang mumpuni. Disinilah PERDAWERI berperan sebagai penengah. Saat ini dari 3000-an dokter umum yang memberi pelayanan estetika, tidak sampai 30% yang sudah menjadi anggota PERDAWERI. Jadi peran PERDAWERI tidak sebatas membela anggotanya tetapi lebih dari itu, mempertemukan dan mencari solusi “win-win” bagi semua pihak. Saya bercita-cita pada waktunya yang tepat, PERDAWERI akan menjadi rumah besar yang nyaman bagi para dokter, baik dokter spesialis maupun dokter umum, yang memberi pelayanan di bidang anti-aging dan estetika.

Banyak orang beranggapan, Perdaweri merupakan kepanjangan tangan dari salah satu perhimpunan yang tergabung, bagaimana tanggapan Anda mengenai hal ini? 

Itu anggapan yang salah. Bahwa dari tiga kajian (PERKAPI, PERPASTI dan PERDESTI) yang menjadi penyumbang awal PERDAWERI pada saat pembentukannya, adalah kenyataan bahwa PERDESTI yang memiliki anggota aktif terbanyak. Ketika mereka ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan PERDAWERI baik di pusat maupun di 13 Cabang, maka terkesanlah PERDAWERI sebagai perpanjangan tangan PERDESTI. Kesan yang jelas keliru.

 

 

Menurut Anda, apa yang membuat Anda dipilih kembali menjadi ketua Umum Perdaweri periode 2017-2020? Apa harapan Anda selama menjabat sebagai ketua perhimpunan ini?
Salah satu faktor, mungkin karena saya tidak melakukan praktek pelayanan di bidang anti-aging dan estetika. Saya adalah spesialis gizi klinik yang lebih netral dalam permasalahan yang dihadapi di bidang anti aging dan estetika. Bahwa secara personal atau kelompok kecil ada yang saling curiga bahkan mempersalahkan satu dengan yang lain, itulah yang dengan semangat persaudaraan sesuai sumpah dokter PERDAWERI terus mengupayakan untuk tercapai penyelesaian yang terbaik. Saya suka mengangkat flosof system thinking, dengan mengambil contoh yang paling gampang adalah garam dapur. Garam dapur itu terdiri dari Natrium dan Klorin. Natrium adalah zat kimia yang kalau terkena air akan meledak. Sedangkan Klorin adalah zat yang berbentuk gas yang kalau kita panaskan akan beracun. Dua-duanya secara sendiri-sendiri bisa berbahaya bagi kehidupan manusia. Tetapi ketika Natirum dan Klorin disatukan dalam satu kesatuan yang saling berterima maka jadilah dia garam dapur yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Bayangkan jika para dokter yang memiliki nilai-nilai luhur profesi dan bersaudara kandung sebagaimana sumpah dokter, bersatu dan saling memberi dan menerima, luar biasa besar manfaat yang akan diterima oleh umat manusia terutama masyarakat yag dilayani.

Periuk dokter-dokter yang berpraktik di bidang estetika dianggap lebih besar dari dokter-dokter yang lain dan ini menimbulkan kecemburuan, tanggapan Anda dalam hal ini?
Rejeki itu datangnya dari Atas. Tidak usah diburu dan tidak perlu khawatir akan kehilangan. Lebih dari itu, kembali pada sumpah dokter, salah satu pointnya adalah saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagaimana saya memperlakukan saudara kandung. Karea itu saya yakin pretensi Anda tentang rebutan periuk, adalah tidak benar. Masa sama saudara kandung rebutan periuk? Tugas saya sebagai Ketua PP PERDAWERI adalah untuk mempertemukan kepentingan semua pihak. Tidak akan mungkin menarik garis tegas yang memisahkan kompetensi antara dokter umum dan dokter, begitu juga antara dokter spesialis yang satu dengan spesialis lainnya. Pasti ada wilayah tumpang tindih. Yang perlu dan sampai saat ini terus didorong oleh PERDAWERI adalah mengatur dengan jernih, wilayah kompetensi mana yang boleh dimiiki dokter umum yang juga dimiliki oleh dokter spesialis. Sebaliknya, juga mengatur dengan jelas, wilayah kompetensi dokter spesialis manakah yang tidak boleh diberikan kepada dokter umum. Dengan demikian masyarakat diberi peluang untuk memilih, pelayanan mana dan oleh siapa yang sesuai dengan kepentingan mereka.

DOKTER INDONESIA HARUS BERSATU
Menghadapi pasar bebas ASEAN yang pada tahun 2020 akan terjadi kebebasan dokter umum masuk dan keluar negara-negara ASEAN, Prof Atja berharap dokter-dokter Indonesia yang seminat di anti aging dan estetika semakin menyatu dan melakukan persaingan positif. “Persaingan secara global sudah di depan mata. Kerjaan saya selama 3 tahun belum selesai sampai nanti tidak adalagi yang saling curiga dan saling menyalahkan,” paparnya. Ia berharap, perlahan-lahan PERDAWERI bisa meyakinkan  pengurus besar IDI dan KKI untuk memberikan kompetensi tambahan pada praktisi yang menjadi anggota, terutama untuk anggota yang masih berstatus dokter umum. Prof Atja menegaskan seyogianya dokter umum boleh memperoleh kompetensi tambahan yang disepakati melalui pendidikan dan latihan tersandarisasi di bawah tanggung jawab Kolegium Dokter Indonesia (KDl). Hak ini didukung Peraturan Konsil No. 48 Tahun 2010 tentang Kewenangan Tambahan Dokter dan Dokter Gigi. Dalam pertemuan Asean beberapa waktu, pihak PB IDI menginformasikan bahwa salah satu topik yang menjadi bahasan utama dalam pertemuan tersebut adalah anti aging dan estetika. Kerjasama ASEAN memberi perhatian yang serius terhadap topik anti-aging dan estetika dalam kaitan perdagangan bebas dunia dapat dimengerti. Global Wellness Intitute melaporkan bahwa pada tahun 2016 dunia membelanjakan uang untuk wellness sebesar US$ 3,7 trilyun. Sebesar US$ 999 milyar dihabiskan untuk anti-aging dan estetika. “Bayangkan, US$ 999 milyar setara dengan RP. 14.485,50 triliun atau 6 kali lebih besar dari APBN Negara Republik Indonesia 2018. Jadi sekali lagi, yang mendesak adalah para dokter segera bersatu mempersiapkan diri menyongsong masa depan agar tidak ketinggalan dan menjadi tamu di negeri sendiri,” sambung Prof. Atja lagi. Baginya, kendala terbesar saat ini sebenarnya bukan pada persaingan antar dokter, tapi justru pada mindset mereka. “Jika mindset berubah bahwa kita harus kerjasama, kenapa mesti ada persaingan? Tunjukkan jika dokter-dokter Indonesia melakukan pekerjaan mereka karena pengetahuan, kemahiran dan teknologi yang dilindungi oleh regulasi. Bukan malah berlindung pada regulasi yang kenyataannya tidak memihak pada kepentingan yang kebih besar” tandasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

----------------------------------

Copyright © 2019 Majalah aesthetic+Themetf

To Top
×