Cover+

Dr. Nora Ariyati, MKes, SpKK

SELALU MENG-UPDATE ILMU SAMPAI TINGKAT TERTINGGI  

Kesejukan dan Kedamaian  Kota malang, awalnya menjadi alasan bagi dr. nora ariyati, mKes, spKK bersama sang suami untuk tinggal dan menetap di Kota tersebut. namun siapa sangka, ternyata di kota ini pula dr. nora justru merasa cocok untuk mendirikan KliniKnya sendiri, bahkan sampai aKhirnya membuKa cabang di beberapa tempat. yuK Kita intip perjalanan Karir doKter berwajah cantiK dan berKulit putih ini.

Saat memutuskan pindah ke Malang, Dr. Nora belum berpikir untuk mendirikan klinik kecantikan sendiri, karena menurutnya hal itu memerlukan modal yang cukup besar. Saat itu, ia hanya berusaha melakukan pekerjaannya dengan baik sebagai dokter di sebuah tempat yang dipinjamkan kepadanya untuk praktik bersama. Namun semakin lama, ia merasa pasiennya semakin banyak, dan pasien kosmetik lebih mendominasi. “Setelah saya memiliki sedikit modal, terpikirlah untuk membuka klinik kecantikan dengan tujuan awal agar pasien merasa lebih nyaman. Tapi lama kelamaan, pasien saya semakin bertambah dan atas permintaan pasien juga, saya pun akhirnya membuka cabang. Klinik kecantikan ini saya persembahkan untuk para pasien, dan sampai sekarang sudah memiliki lima cabang,” ujar Dr. Nora di kliniknya, Aurell Skin Clinic.

INGIN MENDALAMI ILMU KESEHATAN DAN KOSMETIK

Mengapa Anda memilih menjadi seorang dokter, sampai akhirnya menjadi dokter spesialis kulit dan kelamin?
Dokter memang menjadi cita-cita saya sejak kecil, dan passion saja adalah bidang kecantikan. Pada saat kuliah
kedokteran, saya belum berpikir untuk menjadi seorang dokter spesiais kulit dan kelamin, tapi berkat dorongan dari
orangtua dan memang sudah cita-cita saya dari kecil, saya pun menjatuhkan pilihan pada bidang kulit dan kelamin,
karena di bidang ini saya dapat ilmu tentang kesehatan kulit. Saya ingin menjadi dokter tanpa meninggalkan passion saya di bidang kecantikan. Saya juga tidak ingin hanya sekadar kursus, tapi ingin mendalaminya sampai tingkat profesional. Pemilihan jalur ini sendiri tidak mudah dan saingannya cukup banyak. Tapi akhirnya saya terpilih menjadi salah satu dari 20 orang untuk masuk sebagai peserta pendidikan spesialis kulit dan kelamin di Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Apa saja kendala yang sudah Anda hadapi selama ini?
Kendala pasti ada dalam kehidupan kita, apalagi dalam berbisnis dan berpraktik. Kendala di bidang pekerjaan saya bermacam-macam, mulai dari pasien, sampai dari sisi klinik dan usaha. Dari sisi pasien, terkadang pasien merasa kurang puas dan terlalu terobsesi. Ada pasien yang ingin kulitnya putih, tapi obsesi mereka tidak sesuai dengan konteks kulit yang sehat. Di sinilah tantangannya, karena saya harus memberikan penjelasan kepada pasien, perawatan yang sebaiknya mereka lakukan sesuai dengan kulit mereka. Artinya, saya tidak ingin berorientasi pada bisnis. Saya tidak akan melakukan apa yang diminta pasien 100 persen jika tidak baik untuk pasien. Saya lebih memilih menjelaskannya kepada pasien.Sementara kendala dari sisi klinik dan usaha, menurut saya hanya kendala standar saja. Jika masih bisa diatasi, akan saya atasi dengan kerja keras dan sesuai dengan prosedur.Saya akan memenuhi semua ijin dari Dinas Kesehatan, jangan sampai mendirikan klinik atau usaha yang illegal. Begitu pula dengan produk-produk yang gunakan.

Bagaimana dengan suka dan dukanya?
Sukanya adalah pada saat pasien merasa happy, ini tidak ternilai harganya. Misalnya pasien datang dengan keluhan jerawat dan muka rusak, begitu selesai perawatan, wajahnya jadi lebih bersih dan pasien mengucapkan terimakasih. Ini menjad kebahagiaan saya. Sedangkan dukanya, saya tidak menganggapnya sebagai duka, karena kita semua bekerja dengan happy dan senang.

“Saya tidak akan melakukan apa yang diminta paSien 100 perSen jika tidak baik untuk paSien”

MENGHADAPI PASIEN DAN PERSAINGAN BISNIS

Pasien dengan banyak keluhan tentu sudah menjadi ritme kehidupan Anda sehari-hari. Bagaimana Anda menghadapinya?
Yang paling utama adalah ‘listening’. Kita punya dua telinga dan satu mulut, jadi sebaiknya mendengarkan dulu, kemudian baru menemukan solusinya. Pasien akan senang jika kita mendengarkan keluhannya. Karena itu, seorang dokter harus memiliki banyak waktu untuk pasiennya. Setelah itu, kita akan berkompromi dan berdiskusi, dan setelah bertemu solusinya, baru dikerjakan. Seorang dokter bukanlah seorang diktator, jadi saya akan kembalikan kepada pasien baiknya seperti apa. Demikian juga dengan budget pasien, harus bisa disesuaikan. Kita harus bisa memilihkan terapi apa yang cocok untuk pasien, sesuai kondisi kulit, kesehatan dan kemampuan ekonomi mereka. Bahkan terkadang, untuk pasien tertentu, kami bisa memberikan biaya gratis dengan tujuan menolong, bisa juga untuk program Corporate Social Responsibility atau CSR.

Bagaimana pula trik dokter menghadapi persaingan bisnis di bidang klinik kecantikan yang sedang
menjamur saat ini?
Tidak ada trik apapun, yang penting tetap memberikan pelayanan yang terbaik untuk pasien. Semua yang kita
lakukan, dari hal kecil sampai yang besar, semuanya untuk pasien. Nantinya pasien juga akan menentukan mana yang cocok untuk mereka. Dengan melakukan yang terbaik, kita akan mendapatkan yang terbaik juga. Apapun itu harus yang terbaik, mulai dari kebersihan, pelayanan, ofce, beautician, dan dokter. Jadi saya tidak perlu khawatir tentang persaingan bisnis karena semua sudah ada ‘jatah’-nya masing-masing. Rejeki datang dari Allah SWT, dan kita tidak perlu takut.

“Saya mencoba lebih dahulu, Sebelum Saya terapkan kepada paSien, Sehingga biSa menginfokan Sedetail mungkin Sampai biSa meraSakan apa yang akan paSien Saya raSakan”

Untuk melakukan yang terbaik, Anda perlu tahu banyak mengenai perkembangan dunia kedokteran estetik setiap saat, bukan? Bagaimana Anda mencari tahu tentang hal itu?
Sekarang ini saya sedang menempuh Pendidikan S3 dalam bidang kedokteran di ilmu biomedik dan yang saya teliti
adalah tentang stem cell dan anti aging. Kenapa? Karena saya ingin meng-update ilmu. Saya tidak puas hanya dengan kursus singkat. Saya akan meng-update ilmu saya sampai tingkat tertinggi. Nah, tingkat tertinggi akademik dari seorang dokter adalah tingkat S3. Dimana nanti gelarnya adalah Doktor. Saya bukan dosen, tetapi saya mengambil gelar Doktor. Karena biasanya gelar Doktor itu dibutuhkan untuk seorang dosen. Banyak yang bertanya kepada saya kenapa harus mengambil S3 padahal bukan dosen? Karena saya ingin meng-update ilmu saya sampai ke tingkat akhir dan saya akan menemukan sesuatu yang baru, penelitian terbaru. Sedangkan course hanya mempelajari yang sudah ada.

SELALU TERLIHAT SEHAT DAN AWET MUDA
Sebagai dokter kulit, memiliki kulit yang sehat dan awet muda sebagai contoh bagi para pasiennya memang merupakan suatu keharusan. Hal ini juga dirasakan oleh Dr. Nora, di mana ia sebagai dokter dan juga sebagai seorang wanita, ingin agar kulitnya terlihat sehat dana awet muda.“Tentunya saya melakukan perawatan yang ada di klinik, sebelum saya terapkan kepada pasien. Dengan mencoba lebih dahulu, saya bisa menginfokan sedetail mungkin sampai bisa merasakan apa yang akan pasien saya rasakan. Misalnya laser, tanam benang, fller, atau botox. Ini semua sudah saya lakukan, termasuk perawatan facial yang baru. Apapun yang ada di klinik ini sudah saya lakukan termasuk dari ujung rambut sampai kaki,” ujar Dr. Nora yang mengaku mendapatkan dukungan dari suami, anak-anak, bahkan teman-temannya dalam mengelola klinik-kliniknya yang semuanya berlokasi di Malang ini. Lalu, apa yang dilakukan istri dari Dr. Jhony Budi Satrio, M.Kes. SpAn di waktu senggangnya? “Saya habiskan bersama keluarga, misalnya jalan-jalan, makan bersama, rekreasi, olahraga, atau nontoh flm. Pokoknya quality time saya lakukan bersama anak-anak dan keluarga,” ujar ibu dari Mochammad Jousyah Andhira Satrio dan Putri Aurelli Nadhira Satrio ini

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

----------------------------------

Copyright © 2019 Majalah aesthetic+Themetf

To Top
×